Minggu, 20 April 2014

Terpuruk dan Hilang



            Ingin seperti yang lain hidup dalam ketenangan tanpa ada teriakan dan bentakan.
            Lembut pada didik, tidak memaksa, dan mendengar terlebih dahulu.
            Selalu siap mendengarkan keluh kesah, bukan hanya memberi wejangan.
            Menjaga dalam segala bukan sebagian.
            Bersikap layaknya seorang yang memang seharusnya.
            Tidak mengungkit hal yang telah lalu.
            Menjadi penyemangat bukan pemberi tekanan.
            Mendukung setiap hal yang memang positif, bukan malah mengekang.

            Secara tidak sadar memberi nilai kehidupan yang buruk.
Berpolah dengan tidak selayaknya.
Mewarnai hari dengan teriakan dan bentakan.
Bukan tidak menganggap, hanya lelah tiap berkata selalu salah.
Jangan salahkan yang ada disini.
Tengoklah, pelajarilah, cari taulah.
Tidak bisakah untuk bersikap lembut?
Menegur dengan halus?
Tak taukah bahwa sekarang dampak yang ditimbulkan sangat dashyat?
Sehingga tidak tau jati dirinya seperti apa?
Merasa dipenjara dengan segala hal yang bertitle ‘terbaik’.
Tak taukah bahwa mimpi ini telah terenggut?
Telah hancur?
Bahkan musnah.

Berpura-pura menutup telinga, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Itu sangat sulit, bahkan hati ini telah banyak tergores.
Membekas sehingga menjadi nanah.
Hanya diam membisu mendengar bentakan demi bentakan.
Bisakah rubah itu semua?
Dampaknya sangat dashyat, bahkan sampai dipraktekkan dilingkungan.
Seperti seorang psikopat kelaparan.
Oh, tunggu bahkan mungkin sudah menjadi seseorang yang hilang arah.
Tak tau jalan mana yang harus dituju, arah mana yang harus dituruti.
Buta dalam segalanya, hanya kegelapan dan merah kelam yang melekat.

Dengarlah jerit frustasi hati ini.
Jangan dengar jerit jerit disekitar, cukup dengar jerit yang ada disamping.
Biarlah walau hanya sedikit yang terdengar, asal ada yang terdengar.
Apalah arti ini semua jika tak ada sedikitpun dorongan.
Ingin menggapai bintang malah jatuh terjerembab ke jurang keputus asaan.
Menjadi seorang yang terkucilkan, selalu salah dimata semua.
Tidakkah ada dorongan?
Oh, bahkan sampai bosan meminta itu semua.
Dorongan dan dukungan hanya diberikan pada mereka yang dianggap layak.
Padahal semua yang ada juga layak untuk mendapat itu semua.

Mengecilkan hati dan hanya bisa menarik paksa layaknya kerbau.
Bukan membesarkan dan memberi dukungan layaknya mereka yang diberi dukungan.
Yah, terkadang ingin bebas seperti burung diatas sana.
Ingin lepas dan pergi dari kurungan ini.
Tertekan dengan tekanan yang kasat mata.
Oh, sungguh hati ini sudah mencapai batas maksimalnya.
Ingin pergi, dan berkata “tempatku bukan disini”
Lalu menghilang bersama angin yang bertiup kencang.
Menerbangkan semua keputus asaan, dan tekanan yang ada.
Mengobati hati yang telah bernanah.
Memberi jiwa jalan dan arah yang tepat.
Membebaskan semua beban yang ada.
Hilang.
Hilang.
Dan.

Hilang.